Kisah Putra Pemilik Juventus

27 02 2008

Eduardo Agnelli namanya. Dia adalah putra tunggal Gianni Agnelli, bos besar Fiat Group, sekaligus keluarga besar pemilik klub besar Juventus.

Suatu hari dia menyaksikan acara debat politik di televisi Atlanta. Tema yang mereka bahas adalah tema “panas” pada saat itu: krisis di Iran pasca-Revolusi Islam. Ada empat tamu dalam acara itu. Tiga wartawan dan seorang jubir Kedubes Iran di Roma, bernama Hassan Ghadiri Abyaneh.

Abyaneh mendapat giliran bicara yang pertama. Dalam bahasa Italia, dan dengan penuh keyakinan ia berucap, “Dengan Nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan Nama Tuhan Yang Lebih Besar dari kapal-kapal induk Amerika.”

Kalimat itu membuat studio seperti tersihir, kamera seperti membeku, begitu pula Eduardo di depan televisi. Ketika debat usai, keputusan Eduardo sudah bulat: dia harus mendatangi rumah Abyaneh di Roma.

Abyaneh mengenangnya dengan perkataan, “Dia datang dengan skuter butut.” Seolah-olah dia ingin dikenal sebagai orang biasa, meski bisa saja datang dengan membawa Ferrari.

Kepada satpam di mengenalkan diri dengan nama Eduardo. Dia mengatakan kenal Abyaneh di televisi, dan ingin berdiskusi sekaligus meminjam buku-buku tentang Imam Khomeini, pemimpin besar Revolusi Islam Iran.

Jawaban yang diterima awalnya negatif. Tuan rumah sedang tidak ingin diganggu karena akhir pekan adalah waktu keluarga. Sekali lagi Eduardo menitip pesan kepada tuan rumah melalui satpam; yaitu: “Pintu Tuhan tak pernah tertutup”. Segera Abyaneh keluar rumah dengan wajah bersalah. Persahabatan pun dimulai.

Abyaneh kini tau bahwa Eduardo juga seorang Muslim. Ia mengenal Islam saat kuliah di Universitas Princeton jurusan Filsafat dan Kajian Agama. Setelah membaca terjemahan Al-Quran berbahasa Inggris ia masuk Islam, namun disembunyikan dari publik.

Bagi Eduardo, Abyaneh adalah pintu masuknya ke Iran, bertemu dengan ulama berserban. Dia pun terbang ke Iran dan shalat Jumat di belakang Ali Khamenei—pemimpin spiritual Iran sekarang.

Saat pers Barat mencitrakan Imam Khomeini sebagai diktator haus darah, Eduardo malah menemui beliau. Mantan presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, mengisahkan bahwa Imam Khomeini sempat mengecup kening Eduardo dan menasehati: “Banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati”.

Eduardo menemukan kedamaian dalam Islam yang seperti itu dari sekali membaca Al-Quran. Hubungan dengan Abyaneh kian erat. Namun dengan keluarga semakin menegang.

Ayahnya, Gianni, yang tahu bahwa Eduardo berkiblat ke Teheran, menyatakan di media kalau Eduardo tak layak menjadi petinggi Fiat. Lebih buruk lagi ketika Eduardo di fitnah sebagai “gila” dan “pecandu narkotika” yang dibuat keluarganya sendiri.

Husein Abdullahi, mahasiswa Iran yang belajar di Turin mengisahkan bahwa Eduardo sering menyendiri setelahnya dengan membaca buku dan Al-Quran, bahkan kadang hanya dengan lilin.

Beberapa kali Eduardo menyatakan keinginannya untuk menetap di kota teologi Syiah, Qom (Iran), untuk mendalami filsafat dan Al-Quran. Eduardo juga meminta Abdullahi untuk menghubungi Departemen Perdagangan Iran karena ia ingin “menyumbangkan sebagian kekayaanya” tanpa diketahui orang banyak.

Namun, sesuatu terjadi sebelum itu.

Kamis pagi, 15 November 2000, di jembatan raksasa yang menghubungkan Torino-Savona, Carlo Francini, seorang petugas menemukan Fiat Crona hitam terparkir ditanjakan. Lampu masih menyala, tetapi tidak ada pemiliknya.

Polisi kemudian menemukan pemilik mobil tewas di dasar jembatan, 67 meter di bawah sana. Wajahnya rusak nyaris tak bisa dikenali. Dalam kartu pengenal terlihat foto pria berwajah bersih kelahiran New York, 9 Juni 1954. Namanya: Eduardo Agnelli.

Polisi berkesimpulan bahwa Eduardo “bunuh diri”. Namun banyak sahabat yang tidak percaya. Husein Abdullahi mengatakan bahwa Eduardo bukan tipe jiwa yang rapuh. Apalagi tiga hari sebelum kejadian Eduardo masih menyatakan niatnya belajar agama di Iran.

Tahun 2001, wartawan dokumenter Iran terbang ke Italia untuk menelusuri sebab kematian Eduardo. Langkah mereka berhenti. Polisi mendeportasi mereka. (Nampaknya, inilah kehidupan penuh misteri dari keluarga mafia—AR).

Di Villar Perosa, jenazah dikuburkan tanpa kafan, tidak ada Al-Fatihah. Semua dilakukan dengan cara Kristen. La Stampa, koran terbesar Torino milik Dinasti Agnelli, menurunkan brita dengan judul: “La’addio a Edoardo Agnelli” (Selamat Jalan, Eduardo Agnelli).

(Saduran dari buku The Secret of Your Spiritual DNA karya Musa Kazhim)




Detik-Detik Pemilihan Itu Terjadi

24 02 2008

Belum lama setelah Nabi Suci SAW meninggalkan dunia yang fana ini, ada sebagian orang-orang di sekitar Nabi SAW yang sibuk dengan kepentingan dunia. Sejarawan Muslim, Thabari, menyebutkan bahwa ketika itu kaum Anshar sudah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membaiat Sa’d bin Ubadah.

Namun entah bagaimana, hal ini diketahui pula oleh Khalifah Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah sehingga mereka pun menyusul ke sana. Khalifah Umar sudah merencanakan hal ini dan kemudian bangkit angkat bicara, tetapi Abu Bakar menahannya, lalu ia sendiri yang berdiri. Setelah memuji Allah dan hijrahnya kaum Muhajirin serta terdahulunya mereka dalam Islam, ia berkata,

“Merekalah yang pertama-tama menyembah Allah dan menerima keimanan Allah dan sahabat serta karib kerabat Nabi. Karena itu maka mereka (Muhajirin) yang pantas atas kekhalifahan…”

Ketika Abu Bakar selesai berpidato, Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada orang Anshar, “Wahai kaum Anshar, jangan berikan kendali ke tangan orang lain. Penduduk berada di bawah urusan Anda. Anda adalah orang terhormat, mempunyai harta, dan suku. Apabila Muhajirin mengungguli Anda dalam beberapa hal, Anda pun mengungguli mereka dalam beberapa hal. Anda memberikan tempat mereka berlindung. Anda pejuang Islam. Dengan pertolongan Anda Islam berdiri di kaki sendiri. Di kota Anda shalat didirikan dengan bebas… Apabila Muhajirin tidak menyetujui hak Anda, katakan kepada mereka agar ada satu pemimpin dari kita dan satu pemimpin dari mereka.”

Baru saja selesai Hubab berbicara, Khalifah Umar segera bangkit dan berkata,

“Tidak mungkin ada dua pemimpin di satu masa. Demi Allah, orang Arab tidak akan menyetujui Anda sebagai kepala negara, karena Nabi bukan berasal dari Anda… Barang siapa melawan dengan kami dalam hal wewenang dan kepemipinan Muhammad maka ia bersandar kepada yang batil, pendosa dan akan jatuh ke dalam kehancuran.”

Setelah itu Hubab berkata lagi kepada Anshar, “Lihatlah! Bersikeraslah pada sikap Anda dan jangan pedulikan pendapat orang ini atau pendukungnya. Mereka hendak menginjak-injak hak Anda. Apabila mereka tidak setuju, kembalikan dia dan mereka dari kota Anda dan ambillah kekhalifahan itu. Siapa lagi selain Anda yang lebih berhak atasnya?”

Ketika ini, terjadilah pertengkaran mulut yang sengit dan keadaan mulai memburuk. Melihat hal ini, Abu Ubaidah bin Jarrah berbicara dengan maksud mendinginkan kaum Anshar, “Wahai Anshar! Anda adalah orang yang mendukung kami dan menolong kami dalam setiap hal. Janganlah Anda mengubah jalan Anda.”

Tetapi kaum Anshar teguh pada pendiriannya. Ketika mereka sudah siap membaiat Sa’d, seseorang dari suku Sa’d, Basyir bin Amr Al-Khazraji, bangkit dan berbicara, “Tiada ragu, kami mendukung agama dengan tujuan keridhaan Allah dan menaati Nabi-Nya. Tidak pantas jika kami mengaku lebih unggul dan membuat kekacauan soal kekhalifahan. Muhammad berasal dari suku Quraisy dan mereka punya hal yang lebih besar…”

Di sinilah terjadi perpecahan dalam kubu Anshar.

Kesempatan ini diambil Khalifah Umar dan Abu Ubaidah untuk mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar dengan mengikuti Basyir. Kemudian orang sesuku dengan Basyir ikut membaiat seraya menginjak-injak Sa’d bin Ubadah.

Namun…

Selama hal ini terjadi, ada seseorang yang setia kepada Nabi hingga wafatnya sedang sibuk mempersiapkan pemandian dan penguburan Nabi SAW. Beliaulah Ali bin Abi Thalib.

Ketika Amirul Mukminin Ali mendengar hal tersebut, beliau menyampaikan kata-katanya yang indah.

“Mereka berhujah dengan pohon tetapi melupakan buahnya.”

Maksud Amirul Mukminin Ali adalah, kaum Muhajirin menang atas kaum Anshar dalam hal kekhalifahan karena mengaku berasal garis keturunan suku Nabi, bagaimana mungkin orang-orang melupakan buahnya?

Aneh bahwa Khalifah Abu Bakar yang berhubungan dengan Nabi pada tujuh generasi ke atas dan Umar pada sembilan generasi, dapat dianggap sebagai keluarga Nabi, sedangkan Ali sendiri, sepupu pertama, disangkal statusnya sebagai saudara.

Inipun baru dilihat dari sisi pertalian darah, belum dalam hal keislaman Ali sebagai orang pertama yang beriman, setia membela Nabi SAW, dan seterusnya… Wallâhua’lâm.