Bulan Maret tahun ini diawali dengan contoh yang baik dari umat Islam. Sabtu itu Masjid At-Tin (TMII) dipenuhi oleh ribuan kaum Muslimin dengan dua corak warna yang kontras satu sama lain; ada yang putih-putih ada pula yang hitam-hitam.
Hari itu merupakan peringatan Arbain Sayyidina Husain, cucu Nabi SAW. Sebenarnya peringatan Arbain atau empat puluh hari wafatnya Imam Husain AS yang dihitung setelah tanggal 10 Muharram bertepatan pada tanggal 27 Februari (20 Shafar). Hari Sabtu dipilih karena umumnya hari itu libur.
Semua umat Islam dari berbagai organisasi hadir di sana. Acara pertama diisi dengan pembacaan surah Yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Ust. Hasan Daleel. Kemudian taushiyah pertama disampaikan oleh Cak Nun. Beliau mengingatkan bahwa umat Islam sudah diracun oleh musuh-musuh Islam, dan harus segera bangkit.
Pembicara kedua merupakan perwakilan dari Muhammadiyah. Saya tidak mengingat namanya namun beliau adalah mantan ketua IMM. Beliau menyampaikan bagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib AS berjuang dan berperang mati-matian hingga berdarah hanya demi mempertahankan keadilan dan menjaga keutuhan agama Islam. Demikian halnya dengan Imam Husain.
Kemudian acara diisi dengan senandung shalawat yang dibawakan oleh Haddad Alwi, dan dilanjutkan dengan taushiyah dari ulama Iran yang kebetulan hadir di Indonesia, Allamah Ayatullah Najaf Abadi.
Kubah Masjid At-Tin bertuliskan ayat Al-Quran: Allah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nûr : 35)
Ayatullah Abadi menjelaskan dengan indah (yang ringkasnya) adalah bahwa ayat ini ayat yang tiada bandingnya dari awal hingga akhir masa dan wajib ditulis dengan tinta emas. Menafsirkan ayat ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang manusia, namun hanya manusia-manusia suci saja yang dapat menafsirkannya, yaitu Ahlul Bait Nabi SAW.
Saya akan tambahkan penjelasan Ibnu Abbas RA mengenai ayat di atas, namun akan saya ringkas: “Lampu adalah Muhammad, kaca adalah para pemimpin Ahlul Bait, dan pohonnya adalah Fathimah, yang dinyalakan dari Rasul SAW: minyaknya hampir-hampir menerangi. Para imam Ahlul Bait adalah cahaya yang menjadi penerang dan panutan umat. Mereka adalah cahaya, amal perbuatan mereka cahaya, dan mereka berada dalam cahaya.”
Namun, salah satu cahaya tersebut telah dibantai oleh manusia paling terkutuk dari seorang putra terkutuk. Salah seorang cahaya tersebut adalah Sayyidina Husain, yang Rasulullah SAW sabdakan mengenai Sayyidina Husain, “Sesungguhnya Al-Husain adalah pelita hidayah dan bahtera keselamatan.”
Kemudian, kembali diisi dengan shalawat yang dipimpin Haddad Alwi dan juga Salim Al-Hamid. Selanjutnya taushiyah dari perwakilan Nahdlatul Ulama, KH. Noor Iskandar. Beliau menjelaskan mengenai ayat suci Quran ketika Allah memerintahkan Nabi: Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-qurbâ.” (QS. Asy-Syûra : 23)
Atas dakwah beliau, Nabi SAW tidak meminta apapun kepada kalian wahai umat manusia, tidak pula pangkat atau harta berlian, namun beliau hanya minta satu; yaitu cinta dan kasih sayang kepada al-qurbâ, yakni keluarga Nabi SAW. Hal menarik sekaligus “mengejutkan” adalah perkataan beliau menyarankan agar para habaib untuk terjun ke dunia politik, dan dia akan mendukung jika ada habaib yang bertakwa untuk menjadi presiden.
Saya menjadi ingat mengenai Imam Khomeini rahmatullâh ‘alaih, bagaimana beliau “mengecam” ulama-ulama yang hanya berdakwa di masjid-masjid namun tidak terjun ke masyarakat apalagi politik.
Ceramah terakhir disampaikan oleh Ust. Zain Al-Hadi. Beliau menyampaikan bagaimana kita harus memilih shirâth al-mustaqîm, bukan maghdub ‘alaihim atau jalan yang adh-dhâllîn.
Arbain kali ini menjadi contoh bagaimana umat Islam dapat bersatu. Terharu sekali menyaksikan hal ini, bagaimana ketika Syiah dan Ahlus Sunnah bershalawat dan bertakbir “Allahu Akbar” bersama-sama di masjid. Ahlul Bait yang suci adalah milik umat Islam, bukan milik Syiah. Semoga persatuan umat Islam terwujud segera. Ilâhi Âmîn Yâ Rabbal ‘Âlamîn.
Eduardo Agnelli namanya. Dia adalah putra tunggal Gianni Agnelli, bos besar Fiat Group, sekaligus keluarga besar pemilik klub besar Juventus.
Suatu hari dia menyaksikan acara debat politik di televisi Atlanta. Tema yang mereka bahas adalah tema “panas” pada saat itu: krisis di Iran pasca-Revolusi Islam. Ada empat tamu dalam acara itu. Tiga wartawan dan seorang jubir Kedubes Iran di Roma, bernama Hassan Ghadiri Abyaneh.
Abyaneh mendapat giliran bicara yang pertama. Dalam bahasa Italia, dan dengan penuh keyakinan ia berucap, “Dengan Nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan Nama Tuhan Yang Lebih Besar dari kapal-kapal induk Amerika.”
Kalimat itu membuat studio seperti tersihir, kamera seperti membeku, begitu pula Eduardo di depan televisi. Ketika debat usai, keputusan Eduardo sudah bulat: dia harus mendatangi rumah Abyaneh di Roma.
Abyaneh mengenangnya dengan perkataan, “Dia datang dengan skuter butut.” Seolah-olah dia ingin dikenal sebagai orang biasa, meski bisa saja datang dengan membawa Ferrari.
Kepada satpam di mengenalkan diri dengan nama Eduardo. Dia mengatakan kenal Abyaneh di televisi, dan ingin berdiskusi sekaligus meminjam buku-buku tentang Imam Khomeini, pemimpin besar Revolusi Islam Iran.
Jawaban yang diterima awalnya negatif. Tuan rumah sedang tidak ingin diganggu karena akhir pekan adalah waktu keluarga. Sekali lagi Eduardo menitip pesan kepada tuan rumah melalui satpam; yaitu: “Pintu Tuhan tak pernah tertutup”. Segera Abyaneh keluar rumah dengan wajah bersalah. Persahabatan pun dimulai.
Abyaneh kini tau bahwa Eduardo juga seorang Muslim. Ia mengenal Islam saat kuliah di Universitas Princeton jurusan Filsafat dan Kajian Agama. Setelah membaca terjemahan Al-Quran berbahasa Inggris ia masuk Islam, namun disembunyikan dari publik.
Bagi Eduardo, Abyaneh adalah pintu masuknya ke Iran, bertemu dengan ulama berserban. Dia pun terbang ke Iran dan shalat Jumat di belakang Ali Khamenei—pemimpin spiritual Iran sekarang.
Saat pers Barat mencitrakan Imam Khomeini sebagai diktator haus darah, Eduardo malah menemui beliau. Mantan presiden Iran, Hashemi Rafsanjani, mengisahkan bahwa Imam Khomeini sempat mengecup kening Eduardo dan menasehati: “Banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati”.
Eduardo menemukan kedamaian dalam Islam yang seperti itu dari sekali membaca Al-Quran. Hubungan dengan Abyaneh kian erat. Namun dengan keluarga semakin menegang.
Ayahnya, Gianni, yang tahu bahwa Eduardo berkiblat ke Teheran, menyatakan di media kalau Eduardo tak layak menjadi petinggi Fiat. Lebih buruk lagi ketika Eduardo di fitnah sebagai “gila” dan “pecandu narkotika” yang dibuat keluarganya sendiri.
Husein Abdullahi, mahasiswa Iran yang belajar di Turin mengisahkan bahwa Eduardo sering menyendiri setelahnya dengan membaca buku dan Al-Quran, bahkan kadang hanya dengan lilin.
Beberapa kali Eduardo menyatakan keinginannya untuk menetap di kota teologi Syiah, Qom (Iran), untuk mendalami filsafat dan Al-Quran. Eduardo juga meminta Abdullahi untuk menghubungi Departemen Perdagangan Iran karena ia ingin “menyumbangkan sebagian kekayaanya” tanpa diketahui orang banyak.
Namun, sesuatu terjadi sebelum itu.
Kamis pagi, 15 November 2000, di jembatan raksasa yang menghubungkan Torino-Savona, Carlo Francini, seorang petugas menemukan Fiat Crona hitam terparkir ditanjakan. Lampu masih menyala, tetapi tidak ada pemiliknya.
Polisi kemudian menemukan pemilik mobil tewas di dasar jembatan, 67 meter di bawah sana. Wajahnya rusak nyaris tak bisa dikenali. Dalam kartu pengenal terlihat foto pria berwajah bersih kelahiran New York, 9 Juni 1954. Namanya: Eduardo Agnelli.
Polisi berkesimpulan bahwa Eduardo “bunuh diri”. Namun banyak sahabat yang tidak percaya. Husein Abdullahi mengatakan bahwa Eduardo bukan tipe jiwa yang rapuh. Apalagi tiga hari sebelum kejadian Eduardo masih menyatakan niatnya belajar agama di Iran.
Tahun 2001, wartawan dokumenter Iran terbang ke Italia untuk menelusuri sebab kematian Eduardo. Langkah mereka berhenti. Polisi mendeportasi mereka. (Nampaknya, inilah kehidupan penuh misteri dari keluarga mafia—AR).
Di Villar Perosa, jenazah dikuburkan tanpa kafan, tidak ada Al-Fatihah. Semua dilakukan dengan cara Kristen. La Stampa, koran terbesar Torino milik Dinasti Agnelli, menurunkan brita dengan judul: “La’addio a Edoardo Agnelli” (Selamat Jalan, Eduardo Agnelli).
(Saduran dari buku The Secret of Your Spiritual DNA karya Ustadz Musa Kazhim)
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali (QS. Al-Baqarah : 156)
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
|
|
Recent Comments